Valentine oleh sebagian orang dimaknai sebagai tonggak yang bisa untuk mengukur di mana sesungguhnya kasih sayang itu harus ditanamkan. Bagi mereka yang memandang kasih sayang lebih luas lagi akan melakukan apa saja untuk kebaikan orang lain, termasuk kepada alam di sekitarnya.
Kalangan muda di Wates, Kulon Progo, misalnya, lebih suka merayakan Hari Valentine dengan berbagi kebahagiaan bersama teman dan keluarga. "Kami hanya mengambil positifnya. Kami tetap merayakan valentine bersama dengan teman-teman atau keluarga. Kami merayakan untuk saling mengingatkan jika kami memiliki orang-orang yang sayang sama kami," ujar Okta Fanjarwati, siswa SMKN 1 Pengasih, Jumat (13/2).
Natalia Desy Trijayanti bersama remaja lain yang tergabung di organisasi Youth Forum Kulon Progo, Sabtu pagi ini membagikan bunga kertas berisi pesan moral bagi remaja. Salah satu isi pesan itu adalah menjaga pacaran sehat.
Kegiatan yang lebih berarti dilakukan para siswa SMK II Depok, Sleman. Pukul 10.00 hari ini, mereka mendonorkan darahnya bersama para guru dan siswa sekolah lain. Para siswa ini berharap setetes darah yang keluar dari nadi mereka bisa menyelamatkan orang lain yang membutuhkan.
Menurut Ketua II kegiatan donor darah Arwan Prasetyo, yang didampingi oleh Koordinator Pembina OSIS Habibah, sebelum donor dimulai, terlebih dulu dilakukan seminar tentang kesehatan reproduksi dengan menghadirkan narasumber orang-orang kompeten di bidangnya, termasuk dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia. Wakil Kepala Sekolah Bagian Kesiswaan Totok Wardiyanto mengatakan banyak remaja yang belum paham tentang kesehatan reproduksi.
Minggu siang, para siswa SMK II Depok yang tergabung dalam Stembayo Hiking Club (SHC) juga akan melakukan kerja bakti di Jalan Affandi. Melalui kerja baktisekaligus dalam rangka ulang tahun SHC itulah para siswa berupaya menunjukkan kepedulian dan kasih sayangnya terhadap lingkungan.
Kasih sayang pun tidak hanya dimiliki oleh mereka yang normal. Para siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunarungu dan Tunanetra Hellen Keller, Wirobrajan, Yogyakarta, merayakan valentine secara sederhana melalui saling tukar kado antara guru dan murid. Sebanyak 19 anak asuhan SLB Hellen Keller mulai Jumat, keluar asrama untuk berbelanja kado di sekitar asrama.
Karena harga kado dibatasi Rp 1.500, sebagian besar siswa hanya membeli kue atau snack. "Kami memang hanya merayakan dengan sederhana saja karena yang paling penting adalah mengenalkan semangat berbagi pada mereka," kata Kepala SLB Hellen Keller Indonesia Suster Magdalena.
Sebagai anak yang tumbuh dalam keterbatasan, berbagi bukanlah hal yang mudah dipahami. Tak heran, seorang anak menangis ketika bingkisan mereka diambil oleh sang guru. "Semua ini harus diterangkan dengan sangat rinci dan harus dibahasakan melalui isyarat," kata Suster Magdalena.
Meskipun tak mudah, 19 anak berusia 4-19 tahun itu tampak dengan tekun membungkus bingkisan kado dengan kertas koran. Sesekali, pertikaian dan keributan antara anak-anak terjadi. "Hal ini biasa terjadi, mereka memang punya temperamen tinggi. Beberapa dari mereka lahir dengan agresivitas tinggi," kata salah seorang guru kelas, Krismartanti (30).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar