Jumat, 26 Juni 2009
Menaaaang lagi....
Tik...tik...tik...jam ku berbunyi. Destinasiny adl PKBI Jogja/Youth Centre. Jam setengah 12 kami tiba. Sholat Jum'at duku bro...wajib dung!!!
Sehabis sholat,babak baru di hari itu dimulai juga. "Arek2" YF KP cabut dari pit stop pertama (PKB Jogja) menuju ke Kepatihan (samping Bnteng Vredeberg tu lo). Gak lama kemudian kami tiba juga coz gak jauh juga sih t4nya dari PKBI Jogja yg berada di Taman Siswa. Hmm...sehembus angin bertiup siang itu seakan menyambut kehadiran kami. Awal yg baik...begitu pikirku (ketua). Bak anak sapi yg kehilangan ekrnya..eh induknya karepku, rombongan kami datang tanpa sambutan hangat. Kami seperti alien dari luar umi. Sungguh aneh. Kami pun "bertanya". Ujung2nya...kami mendapat informasi gendeng bertajuk heboh because awake dhewe baru tahu kalo acara yg kurang informasi tadi tu jebul LOMBA ORASI...!!! Gendeng pitu likur...!!!!
Cah2 ra ngerti kudu ngopo. Atribut ra nggowo. Spanduk2 ora ono. Nyilih ora iso. Njur arep ngopo jal???? Begitu pikir kami. Yah...cuma modal kaos hadiah jambore yg seragam tapi lum sempet dicuci,modal awak,modal lambe ndomble,modal kerjasama, dan yg paling penting tu modal seemangat 45 DAB..!!! Mung berpegang teguh pada modal-modal kayak tadi dan restu dari Tuhan Yang Maha Kuasa, armada YF KP mengikuti lomba dadakan tsb.
Pemimpin barisan...Mas Rizal, cah SMA 2 Wates kelas Sepoeloeh, langsung bikin yel2 dadakan. Dlm kurun waktu kurang dari satu menit, yel yg bertajuk Garuda di Dadaku n diadaptasi dari lagu Apuse milik tanah Papua berhasil diselesaikan. Tentunya uda diplesetkan dgn tema NarKoBa. Kurang lebih liriknya begini :
Narkoba jo digowo
Narkoba ojo dicoba
Mesakke awak dhewe
Konco-konco....
o...o...o...yaaaa...
Narkoba jo digowo
Narkoba ojo dicoba
Gaweo Yogyakarto
Tentrem sentosa...
o...o...o...yaaaa...
Yogyakarta..............free NARKOBA........
o...o...o...yaaaa...
Orasi oun dimulai. Berangkat dari kepatihan nyampe Monumen Serangan Umum Satu Maret. Ra patio adoh. Yel2 tadi dilantunkan di sepanjang jalan malioboro. Wah...wis ra karu2an dab! Didelok wong2 akeh koyo wong gendeng kurang gawean. Tpi kan niatnya aja ber-parti-si-sapi orasi anti narkoba. Ra ketang minim modal, tapi semangatnya itu lo yg bisa dibanggain. Paling semarak nek bareng2 muni "o..o...o...yaaaa"!!! Begitu akhirnya sampai acara selesai semua masih tetep semangadh.
Dapet suguhan musik reggae ala Bob Marley segala je....Seru abiessss... Cah2 pun bertingkah kesana kemari menyenangkan suasana yg panas itu sampe hari menjelang malam....
Well...semua ragkaian acara Peringatan Hari Anti Narkoba Sedunia telah selesai. yg belum tinggal pengumuman pemenang lomba orasi tsb. yah...gak ada harapan dab! Kelompok orasi yg lain modal bgt. Dari spanduk..poster..ikat kepala say no to drugs, mpe drama teatrikal juga ditontoni. YF KP gak mungkin dapat podium. waa...
Aku mpet berharap dapet juara 3, tapi.....juarane malah kelompok lain. lupa namanya akow... uda gak mungkin menang kan dengan segala kekurangan modal tadi...hh pulang dengan tangan kosong pasti
Tapi Tuhan berkehendak lain. Youth Forum Kulon Progo yg kekurangan modl dan hanya berpegang pada semangat 45 dinobatkan sbg juara ke.....2. HOREEEEEEEEE..................
Gak disangka gak diduga....menang DAB!!!! Tanpa persiapan apapun bisa berprestasi. Inilah kemenangan yg paling aneh. Trophy perdana buat Youth Forum KP. Terharu juga sih kami. Aneeeeehhh...banget!!!!!!! Kok bisa gitu loh? Dengan segala hasil yg diperoleh YF KP berhak atas sebuah piala dan uang pembinaan 200 ribu perak. Alhamdulillaaaaah...
Hari yg panjang itu ditutup dengan dinner yg indah di Jogja Chicken. Nyam,,nyam,,dari siang belom makan perut keroncongan. Seneng bgt semua bisa kumpul2 penuh kebersamaan. Buat saya selaku ketuaYF KP angkatan 2008-2009, inilah trophy yg pertama buat Youth Forum. Berawal dari informasi yg aneh tur nyeleneh tapi akhirnya bahagia. Gak disangka...
Semoga,ini menjadi awal yg baik bagi kemajuan Youth Forum KP ke depannya. Bersama kita bisa. Lanjutkan perjuangan YF. Kami tidak akan berhenti sampai di sini. Cayooo...Youth of KP...
NB: Telah hilang sebuah pita bermotif merah-putih. Panjang 50cm dan lebar 0,7cm. Pita tsb diperkirakan hilang sepanjang jalan Yogya sampe Wates. Barangsiapa yg menemukannya diharapkan menghubungi sekretariat YouthForum KP atau hubungi 085643414933. Kambing Hitamnya "MAS hARUUUUNNN....!!!!!!"
Kamis, 25 Juni 2009
Treble Winner.....!!!!
Itu katanya orang bijak loh. Mungkin kalimat di atas tepat bila ditujukan kepada remaja2 Kulon Progo yg kemaren berprestasi di Jambore Remaja Jogjakarta 2009. horeeeeee......!!!
Lihat aja daftar award yg didapetin nak2 Laskar Binangun ini :
- Juara 1 lomba penyuluhan kesehatan reproduksi remaja.
- Juara 1 lomba design grafis jambore remaja 2009.
- Juara 2 lomba cerdas cermat kesehatan reproduksi remaja.
- Juara 3 lomba dresscode bertema "SuperHero".
Tapi,sebuah prestasi yg uda diraih tidak berarti bahwa perjuangan telah berakhir pula. ini baru awal dari perjuangan yg dilakukan. Khusus bagi Youth Forum Kulon Progo,hasil yg telah dicapai merupakan bukti sahih atas kapabilitas anak2 jebolan Youth Forum dalam menghadapi permasalahan kespro remaja. Karenanya,YF KP ingin sekali memperluas jangkauan keanggotaannya menjadi lebih dekat di komunitas2 remaja yg ada di wilayah Kulon Progo. Bukan untuk mengejar prestasi lagi,tapi "berprestasi" dalam menelorkan konselor sebaya yg unggul dan bervisi cerah. Inilah agenda Youth Forum KP agar regenerasi di dalam organisasi bisa terus berjalan sehigga YF tidak akan pernah kehabisan stok pendidik sebaya yg handal. Mau jadi pendidik sebaya buat temen2 qm? pengen jadi orang yg lebih berguna bwt temen2 qm? Ikut aja Youth Forum. Why not...???
Senin, 15 Juni 2009
Hari Kasih Sayang
Valentine oleh sebagian orang dimaknai sebagai tonggak yang bisa untuk mengukur di mana sesungguhnya kasih sayang itu harus ditanamkan. Bagi mereka yang memandang kasih sayang lebih luas lagi akan melakukan apa saja untuk kebaikan orang lain, termasuk kepada alam di sekitarnya.
Kalangan muda di Wates, Kulon Progo, misalnya, lebih suka merayakan Hari Valentine dengan berbagi kebahagiaan bersama teman dan keluarga. "Kami hanya mengambil positifnya. Kami tetap merayakan valentine bersama dengan teman-teman atau keluarga. Kami merayakan untuk saling mengingatkan jika kami memiliki orang-orang yang sayang sama kami," ujar Okta Fanjarwati, siswa SMKN 1 Pengasih, Jumat (13/2).
Natalia Desy Trijayanti bersama remaja lain yang tergabung di organisasi Youth Forum Kulon Progo, Sabtu pagi ini membagikan bunga kertas berisi pesan moral bagi remaja. Salah satu isi pesan itu adalah menjaga pacaran sehat.
Kegiatan yang lebih berarti dilakukan para siswa SMK II Depok, Sleman. Pukul 10.00 hari ini, mereka mendonorkan darahnya bersama para guru dan siswa sekolah lain. Para siswa ini berharap setetes darah yang keluar dari nadi mereka bisa menyelamatkan orang lain yang membutuhkan.
Menurut Ketua II kegiatan donor darah Arwan Prasetyo, yang didampingi oleh Koordinator Pembina OSIS Habibah, sebelum donor dimulai, terlebih dulu dilakukan seminar tentang kesehatan reproduksi dengan menghadirkan narasumber orang-orang kompeten di bidangnya, termasuk dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia. Wakil Kepala Sekolah Bagian Kesiswaan Totok Wardiyanto mengatakan banyak remaja yang belum paham tentang kesehatan reproduksi.
Minggu siang, para siswa SMK II Depok yang tergabung dalam Stembayo Hiking Club (SHC) juga akan melakukan kerja bakti di Jalan Affandi. Melalui kerja baktisekaligus dalam rangka ulang tahun SHC itulah para siswa berupaya menunjukkan kepedulian dan kasih sayangnya terhadap lingkungan.
Kasih sayang pun tidak hanya dimiliki oleh mereka yang normal. Para siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunarungu dan Tunanetra Hellen Keller, Wirobrajan, Yogyakarta, merayakan valentine secara sederhana melalui saling tukar kado antara guru dan murid. Sebanyak 19 anak asuhan SLB Hellen Keller mulai Jumat, keluar asrama untuk berbelanja kado di sekitar asrama.
Karena harga kado dibatasi Rp 1.500, sebagian besar siswa hanya membeli kue atau snack. "Kami memang hanya merayakan dengan sederhana saja karena yang paling penting adalah mengenalkan semangat berbagi pada mereka," kata Kepala SLB Hellen Keller Indonesia Suster Magdalena.
Sebagai anak yang tumbuh dalam keterbatasan, berbagi bukanlah hal yang mudah dipahami. Tak heran, seorang anak menangis ketika bingkisan mereka diambil oleh sang guru. "Semua ini harus diterangkan dengan sangat rinci dan harus dibahasakan melalui isyarat," kata Suster Magdalena.
Meskipun tak mudah, 19 anak berusia 4-19 tahun itu tampak dengan tekun membungkus bingkisan kado dengan kertas koran. Sesekali, pertikaian dan keributan antara anak-anak terjadi. "Hal ini biasa terjadi, mereka memang punya temperamen tinggi. Beberapa dari mereka lahir dengan agresivitas tinggi," kata salah seorang guru kelas, Krismartanti (30).
Remaja Harus Pertimbangkan Risiko
Demikian topik bahasan dalam seminar "Pernikahan Dini, Perempuan, dan Hak Asasi Perempuan" yang diselenggarakan oleh Institut Hak Asasi Perempuan (IHAP) di Wates, Kulon Progo, Kamis (4/12). Pernikahan dini dianggap sebagai isu yang menarik karena semakin sering ditemui di masyarakat.
Menurut ketua panitia seminar, Isti Komah, jumlah kasus pernikahan dini atau di bawah umur yang diperkarakan di Pengadilan Agama Wates cukup banyak, yakni 27 perkara pada 2007. Jumlah itu relatif tidak berubah dari 2006 yang juga sebanyak 27 perkara.
Ketua Youth Forum Kulon Progo Natalia Desy Trijayanti menambahkan, terdapat dua faktor utama penyebab terjadinya pernikahan dini, antara lain pergaulan bebas dan dorongan dari orangtua. Dari kedua faktor itu, pergaulan bebas merupakan faktor yang paling dominan.
"Dari hasil survei dan penelitian yang kami lakukan, sekitar 44 persen responden remaja di Kulon Progo mengaku sudah pernah melakukan hubungan seks di usia 16-18 tahun," kata Desy, saat membacakan presentasi.
Padahal, menikah dini berisiko tinggi. Remaja putri yang kondisi fisiknya belum siap hamil akan rawan pendarahan dan kanker leher rahim. Dari sisi psikologis, menikah dini akan memberi tekanan mental bagi remaja karena harus memenuhi kebutuhan keluarga dan kemungkinan besar tak bisa meneruskan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Pelanggaran hak
Di sisi lain, menurut anggota Dewan Pengawas IHAP, Zainuddin, pernikahan dini merupakan pelanggaran hak anak. Menurut Pasal 4 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, setiap anak (berusia di bawah 18 tahun) berhak untuk hidup, tumbuh, dan berkembang secara wajar.
Karena itu, pemerintah diminta tegas menerapkan peraturan pernikahan sesuai UU Nomor 1/1974 tentang Perkawinan. Dalam UU itu, perkawinan seseorang yang belum mencapai usia 21 tahun harus mendapat izin orangtua. Batas minimal usia perkawinan itu sendiri 19 tahun bagi pria dan 16 tahun bagi wanita.
Kepala Seksi Penerangan Kantor Perwakilan Departemen Agama Kulon Progo M Wahib Jamil menuturkan, pihaknya akan sebisa mungkin memberikan pembinaan dan pelayanan kepada warga mengenai perkawinan. Sebuah perkawinan seharusnya membentuk keluarga yang bahagia, bukan sebaliknya.
Pernikahan Dini Perlu Dipertimbangkan
Peningkatan terjadinya pernikahan dini ini lebih disebabkan adanya pengaruh dari budaya luar, pergaulan remaja masa kini yang terlalu bebas dan perilaku kehidupan reproduksi yang kurang sehat.
Ketua Youth Forum Kulonprogo Natalia Desy Trijayanti menyatakan survey yang telah dilakukan oleh Youth Forum mendapatkan kenyataan bahwa banyak remaja memiliki pengalaman seks sejak usia di bawah 17 tahun.
"44% responden mengaku punya pengalaman seks pada usia 16 sampai 18 tahun. Bahkan 16% lainnya mengaku punya pengalaman seks sejak usia 13 sampai 15 tahun",terangnya dalam seminar 'Perempuan,Pernikahan Dini dan Penegakan Hak Asasi Perempuan, di Gedung PDHI Wates, Kulonprogo.
Natalie menyatakan bahwa semestinya remaja masa kini harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai seks sehingga tidak terjebak pada pergaulan bebas. Serta harus memiliki harga diri yang positif dan penghargaan yang kuat terhadap diri dan orang lain. "Kita juga dituntut untuk mampu mempertimbangkan segala resiko dari perilaku yang kita lakukan sebelum mengambil keputusan,"imbuhnya.
Hal senada diungkapkan oleh peserta seminar asal MAN Wates Nur Purwanti yang menyatakan bahwa remaja seperti dirinya jangan sampai terjebak dalam pernikahan dini."Anak seumuran saya harusnya ya menyelesaikan sekolah bukannya mengurus rumah tangga,"ujar siswi kelas II ini.
Kasi Penerangan Kanwil Depag Kulonprogo M Wahib Jamil menambahkan bahwa sudah ada kebijakan pemerintah mengenai pernikahan dini, perempuan dan hak asasi manusia. Yakni melaksanakan perkawinan sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku, melakukan pembinaan dan pelayanan pada masyarakat dalam bidang perkawinan."Jangan sampai remaja kita terjerumus pada kegiatan yang merugikan terutama bagi remaja putrid,"jelasnya.
Banyak Risiko Nikah di Usia Dini
Youth Forum Kulon Progo: Pendidikan Kespro Masuk Muatan Lokal
Problem remaja dalam kesehatan reproduksi dan seksual perlu mendapat perhatian semua pihak. Untuk medium perjuangannya, remaja Kabupaten Kulonprogo mendeklarasikan Youth Forum Kulonprogo. Sebagaimana diungkap oleh Harun dan Arief, pembentukan forum ini untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di sekitar remaja. Deklarasi ini dilakukan pada Minggu, 11 Mei 2008 di Wates, Kulonprogo dengan dihadiri oleh para pemangku kepentingan di wilayah kabupaten ini.
Youth Forum akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat sehingga mereka akan tahu realita remaja dan problem yang dihadapi. Misalnya, kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) di kalangan remaja, berdampak pada hilangnya hak pendidikan bagi siswi, sementara dampak ini tidak dirasakan oleh siswa yang menghamili. Ketidakadilan seperti ini menjadi salah satu isu yang akan didialogkan Youth Forum kepada DPRD Kulon Progo, selain dorongan untuk membuat kebijakan yang mengatur dan berpihak pada remaja, serta pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja.
“Kita juga memperjuangkan agar pendidikan kesehatan reproduksi bisa masuk mulok di sekolah-sekolah,” lanjut Harun, siswa SMAN 1 Kokap yang menjadi Ketua Youth Forum Kulon Progo. Keinginan Youth Forum ini mendapatkan angin segar karena sistem pendidikan di Indonesia yang ada sekarang memberikan ruang bagi setiap sekolah untuk menyusun sendiri kurikulum di sekolahnya masing-masing.
“Kalau sekolah ingin membuat pelajaran sendiri tentang kesehatan reproduksi, ya, itu tergantung sekolahnya, mau apa tidak,” kata Moh. Mastur BA, Kepala Dinas Pendidikan Kulon Progo pada acara Sarasehan Kesehatan Reproduksi Remaja, sekaligus membuka Launching Youth Forum. Sarasehan ini juga mengundang Lestaryono, Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo; Widodo, Pengurus Harian Cabang PKBI Kulon Progo; Soepri Tjahyono, Pelaksana Daerah PKBI DIY serta Alya dan Agung, perwakilan remaja di Kulon Progo sebagai pembicara.
Selain sarasehan, acara tersebut juga diramaikan oleh penampilan Sanggar Tantra, Minority Jogja, Trio Angkasa serta teater, musik akustik, dan dance yang disuguhkan oleh teman-teman remaja Kulon Progo dan Youth Forum Yogyakarta.
“Acara ini dibuat semenarik mungkin sebagai langkah awal untuk menarik remaja-remaja di Kulon Progo untuk bergabung dalam Youth Forum. Jika mereka mau bergabung, bisa datang ke markas kita di Jl. Suparman IIA, Wates. Terbuka untuk semua remaja, atau siapapun yang memperhatikan dunia remaja,” kata Arief, siswa SMAN 1 Wates yang menjadi ketua acara tersebut.